Minggu, 14 April 2013

Siapa dia? (end)

Sore ini, seperti biasanya Hana mengajakku untuk bermain basket. Tapi kali ini, aku tak menggunakan kostum basket. Aku mengajak Hana berangkat bersama karena hari ini aku sedang malas mengendarai motor. Untungnya, Hana mau menjemputku  Hana memang temanku yang paling baik. Akupun menunggu Hana dengan sangat sabar, karena aku tau pasti Hana lama sekali datangnya.

Setengah jam kemudian, terdengar suara klakson motor dari depan rumahku. Aku segera menghampirinya. "Akhirnya dateng juga lo!" kataku. Hana hanya cengengesan dan lagsung menarik gas motornya menuju ke lapangan. "Lo kenapa ngga make sepatu ra?" tanya Hana. "Males, hari ini kita refreshing aja ya, gue lagi males main" jawabku. Hana tak menanggapi jawabanku, mungkin ia tau aku sedang unmood.
"Raa itu Farid kan?"kata Hana setiba dilapangan.
"Mana Han?" Tanyaku penasaran.
"Itu yang pake jaket abu-abu,maen gitar. Tapi, ngapain dia main gitar dilapangan basket?kenapa ngga diatas genteng rumahnya aja?" celetuk Hana dengan gaya sok jenius.
Aku terdiam dan langsung merebut bola dari tangan Hana. "Maen Han!" kataku sambil mendribble bola. Hana langsung menghampiriku dan berusaha merebut bola. Pasti Hana merasa aneh karena sikapmu yng aneh akhir0akhir ini. "Lo kenapa ngga nyamperin dia?"Tanya Hana yang berusaha mengalihkan perhatianku. Aku terdiam dan langsung mengambil gerakan memutar dan lay up. Tapi sayang, tembakanku meleset. Hingga Hana sudah mencapai skor 32, aku baru bisa mencetak skor 15 dengan tembakan 6 bola dan 1 kali three point. "Payah lo!" kata Hana meremehkanku. Aku langsung mengajak Hana pulang karena terlalu lelah.

Aku lebih terkejut saat aku melihat Farid yang sedang duduk di sofa sambil berbincanh-bincang dengan kak Rico. Sebenarnya aku penasaran. Tapi  yasudahlah, aku terlalu lelah. Aku langsung menaiki tangga menuju kamar. Mama menyuruhku turun dan makan malam bersama. Tentunya bersama lelaki sok misterius yang tadi mengobrol dengan ka Rico. Aku langsung menuju kebawah tanpa menjawab suruhan mama.
"Ra, kamu ngga inget sama Farid? dulu kamu kan sering main sama dia" kata mama. Aku menggeleng. Lelaki itupun tertawa kecil melihatku yang sok polos. "Gue Farid ya! yang suka lo cubitin kalo gue ngambil bola basket lo!" Aku terdiam. Ya, aku baru ingat. Ya, Farid itu sepupuku dan ia pindah ke Bandung saat usa kami 7 tahun. "Lo beda banget sumpah" kataku. Tawa pun menghiasi makan malam yang indah ini.
*END*