Jumat, 17 Januari 2014

Isi Sebuah Flashdisk (2)

Aku kembali ke kamar setelah menemui tamuku itu. Aku masih bingung untuk apa Ia menemuiku.Tadi ia hanya meminjam flashdisk ku untuk mengcopy sebuah film. Aku tau maksud ia menemuiku bukan untuk itu,karena 2 bulan lalu ia sudah menonton filmnya dan akupun mendapatkan film itu darinya. Bukankah ia yang memintaku untuk menjauhinya. Aku memang ingin bertemu dengannya, meminta maaf tepatnya atas apa yang kulakukan padanya. Sudahlah, mungkin lain kali. Aku kembali mengambil mp4ku dan mendengarkan lagu-lagu penghantar tidurku sampai aku tertidur lelap. Malam yang dingin ditambah rintik hujan dan petir menjadi teman malam ini, hingga hujan pun tak kunjung reda sampai esok tiba. Badanku terasa lemas tak berdaya, panas dingin. Mamapun tak mengizinkanku untuk masuk sekolah. Hari ini kegiatanku hanya terbaring dikasur dan itu sangat membosankan. Untung saja ada Reka dan Maya yang menjengukku setelah mereka pulang sekolah. Mereka adalah teman sekelasku sejak kelas 10. Entah apa yang membuat kami awet sampai kelas 12 ini. "Ayo sembuh dong ka,sepi nih kita cuma berdua doang" kata Reka menyemangatiku. Reka itu memang sok bijak. Ia juga murid pintar di kelas, ia selalu menjadi guru bagiku dan Maya. "Iya, lagian lo bedua ngapain repot dateng kesini segala sih, paling 2 hari kedepan gue udah masuk sekolah" jawabku lemas. "Yeee masa temennya sakit kita diem aja" Sahut Maya. Temanku yang satu ini memang pendiam. Cuek lebih tepatnya. Ia punya 1 pengalaman pahit dengan seorang laki-laki sekolah seberang, makanya sekarang ia terkesan cuek. Kamipun mengobrol sampai rasa pusing dikepalaku tak terasa lagi. Kadang aku berfikir aku adalah orang paling beruntung di dunia karena aku memiliki 2 sahabat seperti Reka dan Maya.

Sore harinya Reka dan Maya berpamitan untuk pulang walaupun aku ingin terus bersama mereka. Aku kembali terbaring dengan beberapa lapisan selimut. Cuaca sore ini mendung dan membuat udara sore hari ini cukup dingin dan badanku kembali meriang. Handphoneku bergetar, ternyata Maya mengirim sebuah pesan singkat padaku. "Gue liat Eki bonceng cewe  ka barusan". Jantungku berdegup kencang. Entahlah suasana ini membuatku tak karuan. Eki memang bukan siapa-siapa lagi,tapi setidaknya rasa itu masih ada.


Keesokan harinya aku masuk sekolah karena kupikir kesehatanku sudah mulai pulih.Ada yang aneh dengan hari ini. Aku merasa sangat rindu dengannya,dengan sepeda motor antik yang biasa mengantarkanku kesekolah. Sudahlah. Akupun mengambil kunci motorku dan segera menuju ke sekolah. Aku melihat seorang lelaki berseragam sekolah sama dengan Eki,lebih tepatnya ia sangat mirip dengan Eki. Bedanya ia tak mengendarai sepeda motor antiknya. Karena penasaran, aku mendekatinya, tapi terlambat ia sudah pergi membonceng seorang wanita seusiaku. Aku tak menghiraukan, Kubiarkan ia pergi begitu saja.

Sesampainya disekolah,kulihat Eki sudah berada didepan gerbang sekolahku dan langsung menghampiriku begitu tau aku datang. Nampaknya ia membawa seorang wanita yang tadi pagi kulihat bersamanya. "Aku mau balikin flashdisk" katanya yang bersamaan mengulurkan flashdisk milikku, aku langsung menyambut dan terseyum kemudian menuju kelas tanpa berkata satu kata pun. Eki pun langsung pergi meninggalkan sekolahku. Begitu sampai kelas,aku langsung menceritakan kejadian yang baru saja aku alami kepada sahabat-sahabatku. "Kan gue bilang apa" kata Maya merespon begitu aku selesai bercerita. "Yaudah nggak usah dipikirin,lo mau belajar materi materi yg ketinggalan selama lo nggak masuk?sini flashdisknya biar gue copy"Sambung Reka. Aku mengangguk.

Hari ini terasa lelah,mungkin ada pelajaran matematika yang membuat otakku jenuh,ternyata banyak sekali materi yang tertinggal selama aku sakit sehingga aku harus mengulang materi sendiri. Aku membuka laptopku untuk mempelajari materi yang belum aku pelajari. Rasanya ada 1 video yang asing didalam data flashdiskku. Aku yakin aku tak pernah memasukkan data ini,tak mungkin ini video materi pembelajaran karena bu Resti jarang sekali memberikan materi dalam bentuk video. Penasaran aku pun membuka video itu. Tak terasa air mataku mulai mencair. Eki. Pasti dia yang menyimpan data ini di flashdiskku. Sebuah ucapan selamat tinggal. Ia akan pergi jauh, menyebrang pulau dan mungkin kami tak akan bertemu lagi. Mungkin bertemu,tapi entah kapan. Ya,semua telah terjawab,aku harus memulai lembaran baru.