Aku kembali ke kamar setelah menemui tamuku itu. Aku masih bingung untuk apa Ia menemuiku.Tadi ia hanya meminjam flashdisk ku untuk mengcopy sebuah film. Aku tau
maksud ia menemuiku bukan untuk itu,karena 2 bulan lalu ia sudah
menonton filmnya dan akupun mendapatkan film itu darinya. Bukankah ia yang memintaku untuk menjauhinya. Aku memang ingin bertemu dengannya, meminta maaf tepatnya atas apa yang kulakukan padanya. Sudahlah, mungkin lain kali. Aku kembali mengambil mp4ku dan mendengarkan lagu-lagu penghantar tidurku sampai aku tertidur lelap. Malam yang dingin ditambah rintik hujan dan petir menjadi teman malam ini, hingga hujan pun tak kunjung reda sampai esok tiba. Badanku terasa lemas tak berdaya, panas dingin. Mamapun tak mengizinkanku untuk masuk sekolah. Hari ini kegiatanku hanya terbaring dikasur dan itu sangat membosankan. Untung saja ada Reka dan Maya yang menjengukku setelah mereka pulang sekolah. Mereka adalah teman sekelasku sejak kelas 10. Entah apa yang membuat kami awet sampai kelas 12 ini. "Ayo sembuh dong ka,sepi nih kita cuma berdua doang" kata Reka menyemangatiku. Reka itu memang sok bijak. Ia juga murid pintar di kelas, ia selalu menjadi guru bagiku dan Maya. "Iya, lagian lo bedua ngapain repot dateng kesini segala sih, paling 2 hari kedepan gue udah masuk sekolah" jawabku lemas. "Yeee masa temennya sakit kita diem aja" Sahut Maya. Temanku yang satu ini memang pendiam. Cuek lebih tepatnya. Ia punya 1 pengalaman pahit dengan seorang laki-laki sekolah seberang, makanya sekarang ia terkesan cuek. Kamipun mengobrol sampai rasa pusing dikepalaku tak terasa lagi. Kadang aku berfikir aku adalah orang paling beruntung di dunia karena aku memiliki 2 sahabat seperti Reka dan Maya.
Sore harinya Reka dan Maya berpamitan untuk pulang walaupun aku ingin terus bersama mereka. Aku kembali terbaring dengan beberapa lapisan selimut. Cuaca sore ini mendung dan membuat udara sore hari ini cukup dingin dan badanku kembali meriang. Handphoneku bergetar, ternyata Maya mengirim sebuah pesan singkat padaku. "Gue liat Eki bonceng cewe ka barusan". Jantungku berdegup kencang. Entahlah suasana ini membuatku tak karuan. Eki memang bukan siapa-siapa lagi,tapi setidaknya rasa itu masih ada.
Keesokan harinya aku masuk sekolah karena kupikir kesehatanku sudah mulai pulih.Ada yang aneh dengan hari ini. Aku merasa sangat rindu dengannya,dengan sepeda motor antik yang biasa mengantarkanku kesekolah. Sudahlah. Akupun mengambil kunci motorku dan segera menuju ke sekolah. Aku melihat seorang lelaki berseragam sekolah sama dengan Eki,lebih tepatnya ia sangat mirip dengan Eki. Bedanya ia tak mengendarai sepeda motor antiknya. Karena penasaran, aku mendekatinya, tapi terlambat ia sudah pergi membonceng seorang wanita seusiaku. Aku tak menghiraukan, Kubiarkan ia pergi begitu saja.
Sesampainya disekolah,kulihat Eki sudah berada didepan gerbang sekolahku dan langsung menghampiriku begitu tau aku datang. Nampaknya ia membawa seorang wanita yang tadi pagi kulihat bersamanya. "Aku mau balikin flashdisk" katanya yang bersamaan mengulurkan flashdisk milikku, aku langsung menyambut dan terseyum kemudian menuju kelas tanpa berkata satu kata pun. Eki pun langsung pergi meninggalkan sekolahku. Begitu sampai kelas,aku langsung menceritakan kejadian yang baru saja aku alami kepada sahabat-sahabatku. "Kan gue bilang apa" kata Maya merespon begitu aku selesai bercerita. "Yaudah nggak usah dipikirin,lo mau belajar materi materi yg ketinggalan selama lo nggak masuk?sini flashdisknya biar gue copy"Sambung Reka. Aku mengangguk.
Hari ini terasa lelah,mungkin ada pelajaran matematika yang membuat otakku jenuh,ternyata banyak sekali materi yang tertinggal selama aku sakit sehingga aku harus mengulang materi sendiri. Aku membuka laptopku untuk mempelajari materi yang belum aku pelajari. Rasanya ada 1 video yang asing didalam data flashdiskku. Aku yakin aku tak pernah memasukkan data ini,tak mungkin ini video materi pembelajaran karena bu Resti jarang sekali memberikan materi dalam bentuk video. Penasaran aku pun membuka video itu. Tak terasa air mataku mulai mencair. Eki. Pasti dia yang menyimpan data ini di flashdiskku. Sebuah ucapan selamat tinggal. Ia akan pergi jauh, menyebrang pulau dan mungkin kami tak akan bertemu lagi. Mungkin bertemu,tapi entah kapan. Ya,semua telah terjawab,aku harus memulai lembaran baru.
Saat sebuah jentikan jemari mengalun..
Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan,tulislah apa yang sedang kamu rasakan..
Jumat, 17 Januari 2014
Sabtu, 29 Juni 2013
Isi Sebuah Flashdisk (1)
Sudah yang kesekian kalinya Aku sengaja datang ke tempat ini hanya untuk mengetahui bagaimana kabar Eki. Eki masih sama seperti yang dulu. Ia selalu datang kesekolah dengan sepeda motor antiknya itu. Entahlah apa yang membuat ia tak bisa lepas dari barang kesayangannya itu. Sepeda motor itu adalah peninggalan dari almarhum kakeknya, makanya ia tidak bisa melepaskan motor antik itu. Aku melihat ke sekililing, banyak anak laki-laki berseragam biru tosca mengendarai motornya ke luar gerbang sekolah, namun aku tak melihat Eki sejak tadi. Aku mungkin memang orang yang bodoh. Kalau saja aku tak terpancing emosi saat itu, mungkin saat ini Eki masih menjemputku ke sekolah dan kami bisa pulang bersama. Yasudahlah, kupikir ini sudah terlanjur terjadi. Apa boleh buat. Toh seberapa lama aku menjalin hubungan pasti mempunyai akhir. Aku terus menunggu, lama. Namun aku tak menjumpai sesosok lelaki kurus hitam manis itu.
"Fika" tiba-tiba suara yang tak asing menegurku saat aku masih berdiri menunggu.
"Eh Ochi! ngapain lo disini?" Tanyaku setengah bingung.
"Lagi nunggu cowo gue nih. Lo ngapain?" Ochi balik bertanya.
"Ah engga chi, gue iseng aja. kebetulan gue lewat sini, yaudah deh gue mampir, sekalian beli minum." Jawabku.
Ochi adalah teman SDku dulu. Dulu kami sering sekali pulang sekolah bersama, hingga akhirnya kami dipertemukan di tempat seperti ini. Sebuah supermarket yang letaknya di depan sekolah Eki. Kamipun mengobrol, hingga akhirnya aku pamit untuk pulang sementara Ochi masih berdiam menunggu seseorang yang sejak tadi di nantinya. Aku baru sadar, sejak tadi aku mencari pom bensin karena bensin motorku habis. Akupun terpaksa harus menggandeng motorku ini ke tempat makanannya di tengah perjalananku menuju rumah.
Sesampainya dirumah, aku langsung menyeruput segelas orange jus yang ada dikulkas. Menuju kamar dan kembali ke tempat yang sejak tadi sudah menungguku, tempat tidur. Saat.aku melamun, entah mengapa aku teringat Ochi. Aku lupa meminta pin BBnya ataupun nomor telepon yang bisa aku hubungi. Siapa tau kami bisa shopping, atau sekedar hangout bersama. Aku mengambil handphoneku, ada banyak bbm yang belum sempat aku baca. Karena handphone low aku memutuskan untuk menchargernya dan mengambil mp4 serta headset putih kesayanganku ini. Ada banyak kenangan yang tersimpan didalamnya. Tentu saja itu semua tentang aku dan Eki. Kami sering menggunakan benda ini berdua. Saat aku sedang menikmati lagu just the way you are dari bruno mars, terdengar suara ketok pintu dar luar kamarku. "Fika!temen kamu nih nyari" teriak mama dari luar kamarku. Aku hanya menyahut untuk kemudian beranjak dari tempat tidurku. "Suruh ke kamar aku aja ma" Kataku kemudian. "Temenmu ini laki-laki,ga sopan masuk kamar anak gadis" sahut mama ketus. Sebentar, mama bilang anak laki-laki?siapa?
"Fika" tiba-tiba suara yang tak asing menegurku saat aku masih berdiri menunggu.
"Eh Ochi! ngapain lo disini?" Tanyaku setengah bingung.
"Lagi nunggu cowo gue nih. Lo ngapain?" Ochi balik bertanya.
"Ah engga chi, gue iseng aja. kebetulan gue lewat sini, yaudah deh gue mampir, sekalian beli minum." Jawabku.
Ochi adalah teman SDku dulu. Dulu kami sering sekali pulang sekolah bersama, hingga akhirnya kami dipertemukan di tempat seperti ini. Sebuah supermarket yang letaknya di depan sekolah Eki. Kamipun mengobrol, hingga akhirnya aku pamit untuk pulang sementara Ochi masih berdiam menunggu seseorang yang sejak tadi di nantinya. Aku baru sadar, sejak tadi aku mencari pom bensin karena bensin motorku habis. Akupun terpaksa harus menggandeng motorku ini ke tempat makanannya di tengah perjalananku menuju rumah.
Sesampainya dirumah, aku langsung menyeruput segelas orange jus yang ada dikulkas. Menuju kamar dan kembali ke tempat yang sejak tadi sudah menungguku, tempat tidur. Saat.aku melamun, entah mengapa aku teringat Ochi. Aku lupa meminta pin BBnya ataupun nomor telepon yang bisa aku hubungi. Siapa tau kami bisa shopping, atau sekedar hangout bersama. Aku mengambil handphoneku, ada banyak bbm yang belum sempat aku baca. Karena handphone low aku memutuskan untuk menchargernya dan mengambil mp4 serta headset putih kesayanganku ini. Ada banyak kenangan yang tersimpan didalamnya. Tentu saja itu semua tentang aku dan Eki. Kami sering menggunakan benda ini berdua. Saat aku sedang menikmati lagu just the way you are dari bruno mars, terdengar suara ketok pintu dar luar kamarku. "Fika!temen kamu nih nyari" teriak mama dari luar kamarku. Aku hanya menyahut untuk kemudian beranjak dari tempat tidurku. "Suruh ke kamar aku aja ma" Kataku kemudian. "Temenmu ini laki-laki,ga sopan masuk kamar anak gadis" sahut mama ketus. Sebentar, mama bilang anak laki-laki?siapa?
Rabu, 05 Juni 2013
Suatu pilihan
Kamu mengenalkan namamu begitu saja, uluran tanganmu dan
suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Satu minggu ditambah satu
hari. Begitu singkat perkenalan kita, tapi ternyata semua telah melekat,
termasuk cinta? Kamu tak percaya?. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicara
manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar
biasa. Kehadiranmu membawa perasaan lain. Hal berbeda yang kamu tawarkan padaku
turut membuka mata dan hatiku dengan lebar. Aku tak sadar, bahwa kamu datang
memberi perasaan aneh. Mendengar suara dan saling tertawa; itulah yang biasa
kita lakukan, di samping membaca pesan singkat yang kautuliskan dengan rapi.
Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Dalam kisahnya, ia harus berjuang, berdiam atau menunggu sekalipun. Kini,
aku telah sampai di tahap ini. Posisi yang sebenarnya tak pernah kubayangkan. Aku
terhempas begitu jauh dan jatuh terlalu dalam. Kukira langkahku sudah benar.
Kupikir anggapanku adalah segalanya. Aku salah, menyerah adalah jawaban yang
kupilih meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu. Aku kira, aku
sudah berhasil melupakan segala macam tentangmu. Kupikir aku siap membuka
hatiku untuk seseorang yang baru. Aku yakin bahwa aku siap membuka mata dan
hatiku pada orang baru yang akan membahagiakanku. Usahaku begitu keras untuk
mematikan perasaan ini. Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam,
sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa
kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum
diam-diam. Segalanya memang tak mudah karena perjuangan yang kulakukan terus
berlanjut. Tak mudah mematikan perasaan pada seseorang yang bisa kita temui
setiap hari. Kamu sudah jadi bagian dari hari-hariku, hampir setiap hari aku
melihatmu. Perubahan yang begitu berbeda membuatku sulit menerima bahwa kita
tak lagi sama.
~with love~
Minggu, 12 Mei 2013
Sepenggal kata...
Kali ini fikiranku kosong. Tak tau apa yang harus kutulis. Biasanya, kamu menjadi inspirasiku. Aku selalu menulis apa yang kurasakan terhadapmu. Entah itu kebahagiaan maupun luka. Hampir semua tulisan yang kutulis adalah kamu. Kali ini selama apapun aku menunggu, takkan ada kamu sebagai inspirasi dari apa yang kutulis. handphone ku juga tak akan berkedip. Tak ada pesan singkat lagi yang biasa menyapa disetiap waktu. Ini memang bukan akhir. Tapi entah mengapa terasa kosong. Aku rindu saat kau menyapa siangku. Aku rindu saat kau mengucapkan selamat malam saat mataku sudai mulai lelah. Aku rindu saat kau membuatku tertawa. Aku rindu kau saat ku melihat makanan ringan favoritmu di supermarket. Headset putih ini, teddy bear ungu. Semua kenangan. Rasanya aku ingin kau kembali. Jika ku bisa memutar waktu kembali ke saat itu, rasanya aku ingin sekali mengunci pintu hatimu, akan kubuang kunci itu entah kemana, agar kau tak pergi seperti sekarang ini. Semua berubah, tak seperti saat itu. Kau tetap pergi walau aku masih ingin bersamamu. Kau hilang, walau aku masih bisa melihatmu. Diam, tanpa suara. Walau kau tak tau apa yang sedang kurasakan, aku masih punya rasa yang sama entah sampai kapan
~with love~
Kamis, 09 Mei 2013
Ricardo kaka, Pemain terbaik FIFA world 2006
Ricardo Izecson dos Santos Leite
- Kaká adalah anggota organisasi "Athletes of Christ".
- Dalam bahasa Italia, bahasa bekas klubnya (AC Milan), padanan kata fonetisnya tertulis sebagai Kakà. Bagaimanapun juga, nama yang tertulis di kaos pemain dieja KAKA'(dengan tanda petik satu, bukan A dengan aksen) baik di klubnya di Milan maupun di tim nasional Brasil dulu. Pada Piala Dunia 2006, bagian punggung kaosnya tertulis KAKÁ. Kaká juga diambil dari bahas Portugis.
- Sejak November 2004, Kaká telah menjadi duta Against Hunger untuk Program World Food PBB. Dia adalah duta yang paling muda pada saat dia ditunjuk.
- Musik favorit Kaká adalah musik gospel.
- Moto hidup Kaká adalah "I belong to Jesus" dan "God is faithful", yang ia jahitkan pada lidah sepatu Adidas Predator Absolutenya.
- Tidak seperti kebanyakan pemain bola lainnya, minuman yang disukai Kakà hanyalah air putih dimana kebanyakan pesepak bola lainnya lebih suka menenggak minuman-minuman keras sambil berpesta di bar. Walau sempat diremehkan rekan-rekannya, ia tetap konsisten pada pendiriannya sehingga akhirnya ia justru dihormati teman-temannya
- Kakà sangat menyukai warna putih yang melambangkan kesucian serta ketulusan. Kakà sangat suka berdoa, bahkan ia sering mengajak rekan-rekannya turut berdoa
- Kakà termasuk seorang penggila mobil Ferrari, ia suka dengan modelnya yang sporty dan elegan. Kakà juga mengidolakan aktor Tom Hanks
Klub
- Piala Super Eropa: 2003
- Serie A: 2004
- Piala Super Italia: 2004
- Piala/Liga Champions: 2006-07
- Piala Dunia Antarklub: 2007
- Copa Del Rey: 2010-2011
- La Liga : 2011-2012
Internasional
- Piala Dunia: 2002
- Piala Konfederasi: 2005, 2009
Prestasi individu
- Bola de Ouro (Golden Ball; Pemain Terbaik Liga Brasil), 2002
- UEFA Club Football Awards 2004-05, Pemain Tengah Terbaik
- Pencetak gol terbanyak Liga Champions 2006-07 (10 gol)
- Pemain Terbaik Dunia FIFA 2006-07
- Ballon d'Or (2007)
- Pemain terbaik pada Piala Konfederasi FIFA 2009
Sumber : Wikipedia
Minggu, 05 Mei 2013
Tiga Lemari Harta
Pak Harun adalah saudagar terkaya di Desa Bahagia. Ia mempunyai peternakan, perkebunan, dan sawah yang luas. Istrinya sudah meninggal. Ia tinggal bersama ke 3 anak laki-lakinya yang sekarang sudah tumbuh dewasa.Kucai, si anak pertama, Lintang si anak kedua, dan Mahar si anak ketiga. Akhir-akhir ini kesehatan Pak Harun semakin menurun. Ia meminta anak-anaknya meneruskan usahanya. Menjual hasil ternak, kebun, dan padi. Namun Kucai dan Lintang hanya menghambur-hamburkan hartanya. Hanya Mahar yang mau bekerja keras.
Pada suatu hari, pak Harus sakit keras. Tubuhnya sangat lemas. Ia memanggil ketiga anaknya."Sebelum ayah meninggalkan kalian, ayah ingin membagikan harta kekayaan ayah" jelasnya. Kucai dan Lintang sangat gembira, sementara Mahar sangat cemas.
"Ayah jangan berkata seperti itu" Ucap Mahar.
"Ayah ingin memberi peternakan kepada Kucai, Perkebunan pada Lintang, dan sawah pada Mahar. Tapi, ingat kalian harus meneruskan usaha ayah" Pesan Pak Harun.
"Ayah tenang saja, kami tidak akan mengecewakan ayah" Kata Kucai dan Lintang bahagia.
"Oh iya, ayah juga memberikan 3 lemari itu" Kata Pak Harun sambil menunjuk ketiga lemari yang ada dikamarnya.
"Tapi lemari itu hanya boleh dibuka setahun setelah kematia ayah. Kuninya ada di kotak hitam itu. Disitu terdapat nama-nama kalian. Kalian harus jujur, jangan membuka lemari yang bukan hak kalian dan bukalah etelah saatnya tiba" Jelas Pak Harun.
Seminggu kemudian, pak Harun meninggal dunia. Namun, pesannya tidak dituruti Kucai dan Lintang. Meraka tetap menghambur-hamburkan hartanya. Hanya Mahar yang bekerja keras mengurusi sawah peninggalan ayahnya.. Peternakan dan perkebunan milik Kucai dan Lintang terbengkalai, bahkan akhirnya dijual karena mereka kalah judi. Niat buruk juga muncul dipikiran Kucai Kemudain Kucai mengambil kotak hitam dan mengambil kuci lemari bertulisakn namanya. Ia langsung menuju kamar Pak Harun dan membuka lemari betuliskan namanya pula. Betapa girangnya Kucai saat mengetahui isi lemarinya adalah emas dan harta berharga lainnya yang jumlahnya sangat banyak. Kucai mempunyai niat buruk lagi. Ia berniat untuk mengambil sedikit harta adik-adiknya sedikit. Lalu ia mengambil kunci kedua adiknya. Aneh, hanya lemari Lintang yang bisa terbuka. Akhirnya Kucai hanya mengambil harta Lintang. Malam kedua, Lintang melakukan hal yang sama. Namun, lemai Mahar juga tak dapat ia buka. Kejadian itu terus berulang-ulang hingga lemari mereka kosong tanpa mereka sadari.
Waktu terus berlalu. Tibalah waktunya untuk membuka lemari masing-masing. Alangkah terkejutnya Kucai dan Lintang ketka melihat lemari merak tak ada isinya. Sementsrs, Mahar tersenyum karena isi lemarinya masih utuh. Akhirnya Kucai dan Lintang mengakui perbuatan mereka masing-masing. Namun, dengan ikhlas Mahar membagikan harta di lemarinya kepada kakak-kakaknya karena ia pikir ia masih mempunyai penghasilan dari sawah, sementara kakak-kakaknya sudah tak mempunyai apapun. Kucai dan Lintang berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Mereka Menggunakan Harta pemberian Mahar untuk usaha. Beberapa tahun kemudian, mereka bertiga menjadi saudagar yang kaya raya.
Pada suatu hari, pak Harus sakit keras. Tubuhnya sangat lemas. Ia memanggil ketiga anaknya."Sebelum ayah meninggalkan kalian, ayah ingin membagikan harta kekayaan ayah" jelasnya. Kucai dan Lintang sangat gembira, sementara Mahar sangat cemas.
"Ayah jangan berkata seperti itu" Ucap Mahar.
"Ayah ingin memberi peternakan kepada Kucai, Perkebunan pada Lintang, dan sawah pada Mahar. Tapi, ingat kalian harus meneruskan usaha ayah" Pesan Pak Harun.
"Ayah tenang saja, kami tidak akan mengecewakan ayah" Kata Kucai dan Lintang bahagia.
"Oh iya, ayah juga memberikan 3 lemari itu" Kata Pak Harun sambil menunjuk ketiga lemari yang ada dikamarnya.
"Tapi lemari itu hanya boleh dibuka setahun setelah kematia ayah. Kuninya ada di kotak hitam itu. Disitu terdapat nama-nama kalian. Kalian harus jujur, jangan membuka lemari yang bukan hak kalian dan bukalah etelah saatnya tiba" Jelas Pak Harun.
Seminggu kemudian, pak Harun meninggal dunia. Namun, pesannya tidak dituruti Kucai dan Lintang. Meraka tetap menghambur-hamburkan hartanya. Hanya Mahar yang bekerja keras mengurusi sawah peninggalan ayahnya.. Peternakan dan perkebunan milik Kucai dan Lintang terbengkalai, bahkan akhirnya dijual karena mereka kalah judi. Niat buruk juga muncul dipikiran Kucai Kemudain Kucai mengambil kotak hitam dan mengambil kuci lemari bertulisakn namanya. Ia langsung menuju kamar Pak Harun dan membuka lemari betuliskan namanya pula. Betapa girangnya Kucai saat mengetahui isi lemarinya adalah emas dan harta berharga lainnya yang jumlahnya sangat banyak. Kucai mempunyai niat buruk lagi. Ia berniat untuk mengambil sedikit harta adik-adiknya sedikit. Lalu ia mengambil kunci kedua adiknya. Aneh, hanya lemari Lintang yang bisa terbuka. Akhirnya Kucai hanya mengambil harta Lintang. Malam kedua, Lintang melakukan hal yang sama. Namun, lemai Mahar juga tak dapat ia buka. Kejadian itu terus berulang-ulang hingga lemari mereka kosong tanpa mereka sadari.
Waktu terus berlalu. Tibalah waktunya untuk membuka lemari masing-masing. Alangkah terkejutnya Kucai dan Lintang ketka melihat lemari merak tak ada isinya. Sementsrs, Mahar tersenyum karena isi lemarinya masih utuh. Akhirnya Kucai dan Lintang mengakui perbuatan mereka masing-masing. Namun, dengan ikhlas Mahar membagikan harta di lemarinya kepada kakak-kakaknya karena ia pikir ia masih mempunyai penghasilan dari sawah, sementara kakak-kakaknya sudah tak mempunyai apapun. Kucai dan Lintang berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Mereka Menggunakan Harta pemberian Mahar untuk usaha. Beberapa tahun kemudian, mereka bertiga menjadi saudagar yang kaya raya.
*END*
Surat untukmu
Hey.
Apa kabar?mungkin kau takkan mau membaca surat ini. Ini memang untukmu. Aku tak mampu berbicara didepanmu Aku terlalu takut kau akan terang-terangan meninggalkanku saat kau tau aku masih punya perasaan yang sama seperti saat pertama kali kau menyatakan cinta padaku. Aku tak tau kapan perasaan ini akan lenyap. Perasaan ini memang menyiksaku. Aku mengerti. Aku paham, bahwa cinta itu bukan sekedar ungkapan. Tapi, ketulusan. Aku memang belum. Tapi, disaat aku mencoba menaruh rasa ini hanya kepadamu, mengapa kau membuatku kecewa?. Entah mengapa kata-kata itu sangat menyayat hatiku. Dalam, bahkan paling dalam dari kata-kata menyakitkan yang pernah kudengar. Aku memang hanya manusia biasa yang beruntung dipilih Tuhan untuk bersamamu. Aku memang sangat menyayangimu. Bahkan saat ucapan itu terlontar tak sengaja dari mulutmu, aku masih tak sanggup melepasmu. Ini kesalahanku, yang terus memaksa dirimu untuk membalas perasaanku. Mungkin ini yang terbaik. Jika akulah sebab kekakacauan hidupmu, aku akan pergi... hilang..berhembus bersama angin, terbawa arus bersama ombak, tanpa bekas. Inilah cinta. Dan dalam kisahku ini, aku harus berkorban lebih dalam lagi. Menghancurkan hati menjadi banyak kepingan. Maafkan aku Tuhan, karena aku tak bisa menjaga titipan kebahagiaan ini. Aku tak mampu mempertahankan pengorbananku selama ini. Tapi aku yakin, mungkin suatu saat kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Yang bisa menyangimu lebih dalam lagi, tanpa harus merusak hidupmu, sepertiku.
~with love~
Langganan:
Komentar (Atom)