Minggu, 05 Mei 2013

Tiga Lemari Harta

Pak Harun adalah saudagar terkaya di Desa Bahagia. Ia mempunyai peternakan, perkebunan, dan sawah yang luas. Istrinya sudah meninggal. Ia tinggal bersama ke 3 anak laki-lakinya yang sekarang sudah tumbuh dewasa.Kucai, si anak pertama, Lintang si anak kedua, dan Mahar si anak ketiga. Akhir-akhir ini kesehatan Pak Harun semakin menurun. Ia meminta anak-anaknya meneruskan usahanya. Menjual hasil ternak, kebun, dan padi. Namun Kucai dan Lintang hanya menghambur-hamburkan hartanya. Hanya Mahar yang mau bekerja keras.

Pada suatu hari, pak Harus sakit keras. Tubuhnya sangat lemas. Ia memanggil ketiga anaknya."Sebelum ayah meninggalkan kalian, ayah ingin membagikan harta kekayaan ayah" jelasnya. Kucai dan Lintang sangat gembira, sementara Mahar sangat cemas.
"Ayah jangan berkata seperti itu" Ucap Mahar.
"Ayah ingin memberi peternakan kepada Kucai, Perkebunan pada Lintang, dan sawah pada Mahar. Tapi, ingat kalian harus meneruskan usaha ayah" Pesan Pak Harun.
"Ayah tenang saja, kami tidak akan mengecewakan ayah" Kata Kucai dan Lintang bahagia.
"Oh iya, ayah juga memberikan 3 lemari itu" Kata Pak Harun sambil menunjuk ketiga lemari yang ada dikamarnya.
"Tapi lemari itu hanya boleh dibuka setahun setelah kematia ayah. Kuninya ada di kotak hitam itu. Disitu terdapat nama-nama kalian. Kalian harus jujur, jangan membuka lemari yang bukan hak kalian dan bukalah etelah saatnya tiba" Jelas Pak Harun.

Seminggu kemudian, pak Harun meninggal dunia. Namun, pesannya tidak dituruti Kucai dan Lintang. Meraka tetap menghambur-hamburkan hartanya. Hanya Mahar yang bekerja keras mengurusi sawah peninggalan ayahnya.. Peternakan dan perkebunan milik Kucai dan Lintang terbengkalai, bahkan akhirnya dijual karena mereka kalah judi. Niat buruk juga muncul dipikiran Kucai Kemudain Kucai mengambil kotak hitam dan mengambil kuci lemari bertulisakn namanya. Ia langsung menuju kamar Pak Harun dan membuka lemari betuliskan namanya pula. Betapa girangnya Kucai saat mengetahui isi lemarinya adalah emas dan harta berharga lainnya yang jumlahnya sangat banyak. Kucai mempunyai niat buruk lagi. Ia berniat untuk mengambil sedikit harta adik-adiknya sedikit. Lalu ia mengambil kunci kedua adiknya. Aneh, hanya lemari Lintang yang bisa terbuka. Akhirnya Kucai hanya mengambil harta Lintang. Malam kedua, Lintang melakukan hal yang sama. Namun, lemai Mahar juga tak dapat ia buka. Kejadian itu terus berulang-ulang hingga lemari mereka kosong tanpa mereka sadari.

Waktu terus berlalu. Tibalah waktunya untuk membuka lemari masing-masing. Alangkah terkejutnya Kucai dan Lintang ketka melihat lemari merak tak ada isinya. Sementsrs, Mahar tersenyum karena isi lemarinya masih utuh. Akhirnya Kucai dan Lintang mengakui perbuatan mereka masing-masing. Namun, dengan ikhlas Mahar membagikan harta di lemarinya kepada kakak-kakaknya karena ia pikir ia masih mempunyai penghasilan dari sawah, sementara kakak-kakaknya sudah tak mempunyai apapun. Kucai dan Lintang berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Mereka Menggunakan Harta pemberian Mahar untuk usaha. Beberapa tahun kemudian, mereka bertiga menjadi saudagar yang kaya raya.

*END*

Surat untukmu

Hey.

Apa kabar?mungkin kau takkan mau membaca surat ini. Ini memang untukmu. Aku tak mampu berbicara didepanmu Aku terlalu takut kau akan terang-terangan meninggalkanku saat kau tau aku masih punya perasaan yang sama seperti saat pertama kali kau menyatakan cinta padaku. Aku tak tau kapan perasaan ini akan lenyap. Perasaan ini memang menyiksaku. Aku mengerti. Aku paham, bahwa cinta itu bukan sekedar ungkapan. Tapi, ketulusan. Aku memang belum. Tapi, disaat aku mencoba menaruh rasa ini hanya kepadamu, mengapa kau membuatku kecewa?. Entah mengapa kata-kata itu sangat menyayat hatiku. Dalam, bahkan paling dalam dari kata-kata menyakitkan yang pernah kudengar. Aku memang hanya manusia biasa yang beruntung dipilih Tuhan untuk bersamamu. Aku memang sangat menyayangimu. Bahkan saat ucapan itu terlontar tak sengaja dari mulutmu, aku  masih tak sanggup melepasmu. Ini kesalahanku, yang terus memaksa dirimu untuk membalas perasaanku. Mungkin ini yang terbaik.  Jika akulah sebab kekakacauan hidupmu, aku akan pergi... hilang..berhembus bersama angin, terbawa arus bersama ombak, tanpa bekas. Inilah cinta. Dan dalam kisahku ini, aku harus berkorban lebih dalam lagi. Menghancurkan hati menjadi banyak kepingan.  Maafkan aku Tuhan, karena aku tak bisa menjaga titipan kebahagiaan ini. Aku tak mampu mempertahankan pengorbananku selama ini. Tapi aku yakin, mungkin suatu saat kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Yang bisa menyangimu lebih dalam lagi, tanpa harus merusak hidupmu, sepertiku.


~with love~