Suatu hari, datanglah seorang pemuda dengan kuda perangnya. Entah dari negri mana, pemuda itu ingin sekali memasuki istana dan bertemu Raja Arial. Para pengawal bersikeras melawannya, namun kecerdikan pemuda itu mampu mengalahkan para pengawal istana. "Siapa anda?" tanya Putri Arika saat bertemu dengan pemuda itu didepan kamar Raja Arial. "Izinkan hamba bertemu dengan Tuan Raja, Putri" Ucap pemuda itu sambil memberi hormat. Putri Arika langsung marah dan menyuruh pemuda itu keluar dari istana. Pemuda itupun menolak dan langsung membuka pintu kamar Raja Arial.
"Siapa anda?" Tanya Raja Arial lemas
"Maafkan hamba Tuan Raja hamba telah lancang memasuki istana Tuan Raja yang megah ini. Tapi hamba punya obat agar Tuan Raja bisa sembuh dari penyakit ini" Jelas pemuda itu.
"Tak ada satupun tabib yang bisa menyembuhkanku. Bagaimana bisa kau anak muda yang belum punya apa-apa tahu apa obat untuk penyakitku ini" Ucap Raja Arial.
"Aku hanya ingin memberikan ini Tuan Raja. Tuan Raja bisa baca. Ini adalah obat untuk menyembuhkan penyakit Tuan Raja" Pemuda itu memberikan secarik kertas didalam botol yang bertutup. Pemuda itu lenyap entah kemana. Raja Arial pun langsung membuka isi botol tersebut. "madu mawar putih yang ada di hutan kelana. hanya bisa diambil oleh seorang putri yang jujur". Raja Arial lalu memanggil ke tiga putrinya dan memerintahkan untuk segera mencari madu mawar putih di hutan kelana. "Ingat, bila ada sesuatu, kalian harus menjawab dengan jujur" Pesan Raja Arial. Maka, berangkatlah ketiga putri tersebut dengan para peri pengasuhnya.
3 hari berlalu, tapi ketiga puri tersebut belum menemukan madu mawar putih sementara bekal mereka hanya tersisa 1 potong roti dan sebotol air. Peri biru, pengasuh Putri Ariesta menyarankan agar mereka berpencar sehingga cepat menemukan madu mawar putih tersebut. Mereka setuju dan membagi bekal sisaan mereka menjadi 3 bagian sama rata. Putri Arinda memilih jalan ke kanan atas saran pengasuhnya peri kuning. Dijalan, Putri Arinda bertemu dengan seorang kakek yang nampak kelaparan. Kakek itupun menghampiri Putri Arinda dan meminta sedikit makanan. Kakek itu berjanji akan mengantarkan tujuan Putri Arinda. Tapi, Putri Arinda mengaku tidak mempunyai bekal sedikitpun. Padahal masih ada sedikit roti yang dibagi saat ketiga Putri tersebut berpencar. Kakek itupun menghlang entah kemana dan Putri Arinda merasa lelah dan memutuskan untuk pulang ke istana.
Putri Arika dan peri merah terus menyusuri hutan kelana. Ia bertemu dengan seorang pencuri guci yang meminta tolong agar keberadaannya disembunyikan. Awalnya Putri Arika menolak, tapi Putri Arika ditawati emas yang harganya sangat mahal dan bagus. Lalu, datanglah segerombolan orang yang mencari si pencuri guci tersebut. Putri Arika menataati perjanjian dengan si pencuri tersebut. Karena puas, Putri Arika kembali ke istana dan tidak meneruskan mencari obat untuk ayahandanya.
Tinggallah Putri Ariesta. Ia betemu dengan seorang gadis kecil yang ibunya sedang membutuhkan makanan karena sakit. Putri Ariesta lalu memberikan seluruh bekalnya tanpa sisa. Ia memberikannnya tanpa berharap imbalan apapun dari gadis kecil itu. Ibu gadis kecil kecil itu menghilang. Dan gadis kecil itu berubah menjadi seorang pangeran yang sangat tampan. Pangeran itu memberikan setangkai bunga mawar putih kepada Putri Ariesta. Putri Ariesta sangat gembira dan langsung pulang ke istana bersama pangeran itu. Raja Arial sembuh dari penyakitnya dan Putri Ariesta menikah dengan pangeran tampan itu dan hidup bahagia selamanya.
*END*