Sabtu, 29 Juni 2013

Isi Sebuah Flashdisk (1)

Sudah yang kesekian kalinya Aku sengaja datang ke tempat ini hanya untuk mengetahui bagaimana kabar Eki. Eki masih sama seperti yang dulu. Ia selalu datang kesekolah dengan sepeda motor antiknya itu. Entahlah apa yang membuat ia tak bisa lepas dari barang kesayangannya itu. Sepeda motor itu adalah peninggalan dari almarhum kakeknya, makanya ia tidak bisa melepaskan motor antik itu. Aku melihat ke sekililing, banyak anak laki-laki berseragam biru tosca mengendarai motornya ke luar gerbang sekolah, namun aku tak melihat Eki sejak tadi. Aku mungkin memang orang yang bodoh. Kalau saja aku tak terpancing emosi saat itu, mungkin saat ini Eki masih menjemputku ke sekolah dan kami bisa pulang bersama. Yasudahlah, kupikir ini sudah terlanjur terjadi. Apa boleh buat. Toh seberapa lama aku menjalin hubungan pasti mempunyai akhir. Aku terus menunggu, lama. Namun aku tak menjumpai sesosok lelaki kurus hitam manis itu.
"Fika" tiba-tiba suara yang tak asing menegurku saat aku masih berdiri menunggu.
"Eh Ochi! ngapain lo disini?" Tanyaku setengah bingung.
"Lagi nunggu cowo gue nih. Lo ngapain?" Ochi balik bertanya.
"Ah engga chi, gue iseng aja. kebetulan gue lewat sini, yaudah deh gue mampir, sekalian beli minum." Jawabku.
Ochi adalah teman SDku dulu. Dulu kami sering sekali pulang sekolah bersama, hingga akhirnya kami dipertemukan di tempat seperti ini. Sebuah supermarket yang letaknya di depan sekolah Eki. Kamipun mengobrol, hingga akhirnya aku pamit untuk pulang sementara Ochi masih berdiam menunggu seseorang yang sejak tadi di nantinya. Aku baru sadar, sejak tadi aku mencari pom bensin karena bensin motorku habis. Akupun terpaksa harus menggandeng motorku ini ke tempat makanannya di tengah perjalananku menuju rumah.

Sesampainya dirumah, aku langsung menyeruput segelas orange jus yang ada dikulkas. Menuju kamar dan kembali ke tempat yang sejak tadi sudah menungguku, tempat tidur. Saat.aku melamun, entah mengapa aku teringat Ochi. Aku lupa meminta pin BBnya ataupun nomor telepon yang bisa aku hubungi. Siapa tau kami bisa shopping, atau sekedar hangout bersama. Aku mengambil handphoneku, ada banyak bbm yang belum sempat aku baca. Karena handphone low aku memutuskan untuk menchargernya dan mengambil mp4 serta headset putih kesayanganku ini. Ada banyak kenangan yang tersimpan didalamnya. Tentu saja itu semua tentang aku dan Eki. Kami sering menggunakan benda ini berdua. Saat aku sedang menikmati lagu just the way you are dari bruno mars, terdengar suara ketok pintu dar luar kamarku. "Fika!temen kamu nih nyari" teriak mama dari luar kamarku. Aku hanya menyahut untuk kemudian beranjak dari tempat tidurku. "Suruh ke kamar aku aja ma" Kataku kemudian. "Temenmu ini laki-laki,ga sopan masuk kamar anak gadis" sahut mama ketus. Sebentar, mama bilang anak laki-laki?siapa?

Rabu, 05 Juni 2013

Suatu pilihan



Kamu mengenalkan namamu begitu saja, uluran tanganmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Satu minggu ditambah satu hari. Begitu singkat perkenalan kita, tapi ternyata semua telah melekat, termasuk cinta? Kamu tak percaya?. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicara manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa. Kehadiranmu membawa perasaan lain. Hal berbeda yang kamu tawarkan padaku turut membuka mata dan hatiku dengan lebar. Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan aneh. Mendengar suara dan saling tertawa; itulah yang biasa kita lakukan, di samping membaca pesan singkat yang kautuliskan dengan rapi.

Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Dalam kisahnya, ia harus berjuang, berdiam atau menunggu sekalipun. Kini, aku telah sampai di tahap ini. Posisi yang sebenarnya tak pernah kubayangkan. Aku terhempas begitu jauh dan jatuh terlalu dalam. Kukira langkahku sudah benar. Kupikir anggapanku adalah segalanya. Aku salah, menyerah adalah jawaban yang kupilih meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu. Aku kira, aku sudah berhasil melupakan segala macam tentangmu. Kupikir aku siap membuka hatiku untuk seseorang yang baru. Aku yakin bahwa aku siap membuka mata dan hatiku pada orang baru yang akan membahagiakanku. Usahaku begitu keras untuk mematikan perasaan ini. Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Segalanya memang tak mudah karena perjuangan yang kulakukan terus berlanjut. Tak mudah mematikan perasaan pada seseorang yang bisa kita temui setiap hari. Kamu sudah jadi bagian dari hari-hariku, hampir setiap hari aku melihatmu. Perubahan yang begitu berbeda membuatku sulit menerima bahwa kita tak lagi sama.
 
~with love~