Suatu hari, putri Perindu ingin sekali kabur dari istana. Namun, ketika akan lari dari istana, tiba-tiba putri Perindu mendengar nyayian riang yang liriknya jenaka. Putri Perindu menjadi penasaran.
"Dayang, siapa yang bernyayi itu?" tanya putri Perindu pada dayang pengasuh.
"Oh dia Husen, pedagang loak keliling yang jenaka" jelas dayang pengasuh.
"Aku ingin bertemu dengannya!" kata putri Perindu sabil berlari keluar istana.
Ia lalu mengentikan kereta keledai Husen. Kereta itu penuh dengan lukisan orang tersenym dan tertawa. Husen adalah seorang lelaki yang gemuk namun gesit. Wajahnya bersemu merah dengan mata berbinar cerah.
"Selamat pagi putri. Apakah putri ingin membeli sesuatu? Hamba hanya menjual barang bekas" Sapa Husen sambil memberi salam hormat.
"Apa yang membuat kau terlihat bahagia?" tanya putri Perindu.
"Hamba mempunyai kitab rahasia dari nenek moyang hamba. Namanya 'Kitab Kebahagiaan'. Kitab ini berisi rahasia menjadi orang bahagia, meski dalam keadaan susah sekalipun!"
"Aku ingin membeli kitab itu" Kata putri Perindu.
"Maaf putri, kitab itu tidak hamba jual. Lagipula, bukankah putri sudah bahagia dengan hidup berlimpah harta?" Jelas Husen.
"Aku tidak bahagia, aku tidak cantik. Tidak ada pangeran yang mau berdansa denganku, makanya aku butuh kitab kebahagiaan itu".
Husen teridam sejenak. "Baiklah putri, kitab ini akan aku pinjamkan kepada putri. Supaya peti penyimpannya dapat terbuka, putri harus melaksanakan mantra pembukanya" kata Husen kemudian.
Ia lalu menyerahkan kotak berwarna kuning dan secarik kertas mantra kepada putri Perindu.
"Ini kitabnya dan secarik kertas berisi daftar mantranya. Sebulan lagi, hamba akan kembali untuk mengambilnya. Keberhasila tergantung pada usaha putri sendiri" Ucap Husen.
Husen lalu melajutkan perjalanannya sambil bernyanyi riang jenaka.
Putri Perindu membaca daftar mantra. Minggu pertama : 'Tanam bunga, burung berkicau, matahari bersinar'. "Mantra yang aneh" pikir putri Perindu. Namun tetap ia kerjakan juga. Seminggu penuh putri Perindu menanam bunga sambil mendengarkan burung-burung bernyanyi. Di akhir minggu, ia berkaca. Tampak seorang putri dengan gaun yang penuh dengan tanah, namun pipinya segar terkena cahaya matahari.
"Aku terlihat segar" gumam putri Perindu pada bayangannya di cermin.
Mantra kedua, Minggu kedua: 'Cinta kasih tak ternilai dari orang-orang yang menyayangimu.'
"Maksudnya kedua oranguaku?Para dayang-dayangku?dan...seluruh rakyatku?" putri Perindu bertanya-tanya. Tiba-tiba putri Perindu terkejut. Betapa lalainya dia selama ini mengabaikan Raja dan Ratu, para dayang-dayangnya dan juga rakyatnya. Selama ini ia hanya sibuk menyesali wajahnya yang tidak cantik. Seminggu itu, putri Perindu memberikan perhatian kepada orang-orang disekelilingnya.
Mantra ketiga, Minggu ketiga: 'Beri senyum tawa, maka kau akan menerima senyum dan tawa'.
Putri Perindu mendengus kesal membaca mantra itu. Bagaimana bisa tersenyum bila hati tak bahagia?Pikirnya. Tapi putri Perindu mencoba bercakap ramah dengan dayang-dayangnya. Ia selalu tersenyum kepada rakyatnya saat jalan-jalan ke perkampungan. Ajaib! tiba-tiba putri Perindu merasa senang. Wajahnya berseri-seri dan matanya berbinar.
Mantra Keempat, Minggu Keempat: 'Bayangan di cermin tidak pernah bohong'. Putri Perindu berdiri didepan cermin. Seorang putri aggun berwajah ramah dan lembut ada di dalam cermin Itu bayangan putri Perindu sekarang. Ia merasa sangat cantik, sebab ia sudah merasa bahagia. Putri Perindu memutuskan mengembalikan kotak berisi Kitab Kebahagiaan itu kepada Husen. Sebab, tanpa perlu membuka kitab itu, putri Perindu sudah merasa bahagia. Putri Perindu juga memutuskan untuk datang ke pesta kerajaan nanti. Ia percaya, kali ini pasti ada pangeran yang mengajaknya berdansa. Sebab, ia sudah bercakap ramah, dan ia bisa tersenyum bahagia.
*END*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
kritik dan saran boleh ko ..